You are here
Home > InfoPedia

Aswanto, Hakim Konstitusi Kelahiran Luwu Salah Satu Penentu Sengketa Pilpres 2019

hakim aswanto
Bagikan :

Aswanto, Hakim Kelahiran Luwu Salah Satu Penentu Sengketa Pilpres 2019

SIDANG gugatan sengketa hasil pilpres 2019 yang diajukan tim hukum pasangan Prabowo-Sandi sebagai pihak pemohon, telah berakhir kemarin  Jum’at (21/06/2019).

Pemeriksaan perkara telah selesai, yaitu perkara nomer 1/PHPU/17/2019 telah selesai. Kepada para pihak, pemohon, termohon dan pihak terkait, Bawaslu, untuk agenda selanjutnya nanti akan diberitahu oleh kepaniteraan melalui surat, untuk pengucapan putusan,” kata Ketua Majelis Hakim MK Anwar Usman saat menutup persidangan, dikutip dari laman Kompas.com

Proses persidangan digelar sebanyak 5 kali sejak Jum’at (14/06/2019), sebanyak 15 dalil gugatan yang dilayangkan oleh pemohon, selanjutnya di ikuti pembacaan dalil termohon dan pihak terkait, pemeriksaan saksi pemohon, termohon, serta pihak terkait.

Majelis hakiM selanjutnya akan melakukan Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH) untuk menetapkan putusan yang akan dibacakan pada 28 Juni 2019 nanti. Materi persidangan akan kembali diperdebatkan oleh para hakim, sebagai dasar penetapan mencari keadilan.

Hasil akhir dari sengketa pilpres 2019 kini berada di tangan 9 Hakim Konstitusi. Putusan rencananya akan dibacakan pada 28 Juni 2019, akan menentukan pemimpin Indonesia untuk 5 tahun mendatang

BACA JUGA :
Percayalah kepada MK
Prabowo Minta Pendukungnya Sami’na Wa Atho’na

Ada satu sosok hakim konstitusi yang akan menjadi salah satu penentu dari perkara ini, ialah Prof. Dr. Aswanto, S.H., M.Si.,DFM. Aswanto adalah hakim konstitusi yang saat ini menjabat untuk periode kedua (2019-2024). Sebelumnya juga menjabat sebagai hakim konstitusi pada periode 2014-2019.

Pria berkelahiran Luwu, disebuah desa kecil yaitu desa komba kecamatan larompong.  Aswanto menghabiskan masa kecilnya di Luwu hingga Lulus dari sekolah menengah pertama, kemudian merantau ke Makassar untuk melanjutkan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi. “Di Luwu saat itu SMA masih belum banyak dan jaraknya jauh karena desa kita jauh dari pusat kota,” kenangnya lansir dari laman MKRI.id

Sebelum menjabat sebagai hakim konstitusi, Aswanto adalah Guru Besar Ilmu Pidana, Universitas Hasanuddin, Makassar. Aswanto menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Komba Kecamatan Larompong  tahun (1975), Sekolah Menengah Pertama Negeri Larompong Tahun (1979) dan menamatkan Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Makassar tahun (1986).

Selanjutnya Aswanto menempuh pendidikan S-1 di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (1986), S-2 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1992), S-3 Universitas Airlangga Surabaya (1999). Kemudian Diploma in Forensic Medicine and Human Rights, Institute of Groningen State University, Belanda (2002).

Aswanto diketahui pernah mengajar sebagai dosen program pascasarjana ilmu hukum di Universitas Hasanuddin, UMI, dan UKIP. Dia menjadi tim Sosialisasi HAM bagi anggota Polri pada 2001-2002. Menjabat sebagai  Ketua Ombudsman Makassar pada 2008-2010 dan juga menjadi Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (2010-2014).

Top