You are here
Home > Pojok

Catatan Untuk Mahasiswa

catatan untuk mahasiswa
Bagikan :

Penulis : Soni Saulaha
(Kader Progresif LMND Ek Minahasa)

*****

Bicara tentang insan ilmiah atau yang lebih dikenal sebagai mahasiswa,
Kita tentu tahu seperti apa Mahasiswa itu, mereka orang-orang yang menjunjung tinggi prinsip moral, kemanusiaan, dan keadilan. Mahasiswa sangat mengutuk keras segala bentuk penindasan dan eksplotasi.

Tapi, jika kita tinjau pada dunia kampus serta melihat lebih jauh maka mahasiswa seakan-akan tertunduknya nalar mereka. Pada tujuan mereka yang kadang mengancam diri mereka sendiri yaitu berpetualangan nilai. Tidak sedikit mahasiswa yang gemetar ketika seorang dosen mengancam mereka. Ancaman tidak memberi nilai yang baik, karena melawan otoritas dosen atau mengkritik.

Mahasiswa seharusnya menyadari hal ini, tentang apakah dia pantas mendapatkan nilai akademik yang baik berdasarkan kapasitas intelektualnya atau justru sebaliknya! Dalam kondisi tertekan banyak mahasiswa kehilangan pikiran, jadi tidak bisa memikirkan lagi apa dia pantas atau tidak menerima nilai tersebut.

BACA JUGA : PERINGATI WORLD CLEAN UP DAY, MASYARAKAT MINAHASA BERSIHKAN SAMPAH.

Misalnya, dapat nilai “A” atau nilai “D”. tak ada yang bias menggaransi siapa di antara mereka yang mempunyai kemampuan intelektualitas dan siapa yang tidak. Sebagai seorang pelajar, kita harus sadar bahwa ada dosen (tidak semua)  yang tidak melihat kapasitas seorang mahasiswa. Tapi menilai mahasiswa dari kedekatan saja, tanpa memperhatikan tingkat intelektualitas mereka.

Ini adalah kondisi yang absurd dalam dunia pendidikan. Cara seperti merupakan sesuatu yang konyol dan menghinanti dunia ilmu pengetahuan. Tetapi pertanyaannya mengapa cara semacam ini ada dalam dunia pendidikan kita?

Tidak untuk terus larut dalam skeptisme,  kita juga meyakini masih ada pengajar yang memberi penilaian yang proporsional. Tentunya kita berharap lebih kepada pengajar yang demikian. Agar generasi selanjutnya tidak berkubang pada pragmatisme nilai IPK semata.

Jika tidak, sistem pendidikan di Indonesia sepertinya tidak mempunyai kemajuan bersaing dengan Negara tentangga, apalagi dengan Negara-negara Eropa. Dalam dunia kampus, pengajar dan pelajar kebanyakan tidak progresif untuk pengembangan pengetahuan. Rata-rata sesama mahasiswa terjebak dalam pengejaran nilai. Dosen pun menjadi peminta dan tidak mampu melihat potensi mahasiswa yang punya wawasan intelektual.
Dan orang-orang yang ada dalam dunia kampus ini kebanyakan kekurangan gizi kesadaran untuk membaca. Pada akhirnya tidak mampu mengembangkan daya berfikir secara rutin atau bertahap, seorang dosen pun tidak mempunyai sumbangan ide itu pada anak didiknya.

Tidak semua mahasiswa, hanya kebanyakan mahasiswa hanya bisa mengubah keburukan nilainya menjadi baik tanpa memperhatikan keburukan pikirannya yang buruk dan buta ilmu pengetahuan.

Membiarkan keburukan semacam ini membentengi atau menjadikan markas ketidaktahuan dalam pikiran seorang mahasiswa. Yang katanya agen of cange kelunturan semangat membaca di kalangan mahasiswa ini yang menjadi penyakit apatisme.

Top