You are here
Home > Pojok

Catatan Untuk Mahasiswa

catatan untuk mahasiswa
Bagikan :

Ini akan menjadi penyakit kronis pada diri seseorang yang duduk di bangku perguruan tinggi (menular menjadi apatis aktif – tidak memiliki kesadaran mencari pengetahuan,)
sebagian besar mahasiswa hampir menganggap ilmu pengetahuan seperti anak tiri dalam pikiran mereka sendiri, maka ini adalah malapetaka bangsa.

Sebagai mahasiswa yang haus akan pengetahuan, seharusnya tidak boleh melepaskan diri dari kajian yang bersentuhan dengan realitas dalam kampus. Dan kadang nilai yang dikejar dengan susah payah justru membuat gaya berpikir anda sendiri tidak memiliki perkembangan kecerdasan tidak mempunyai daya kritis, apalagi kritik.

BACA JUGA : KULIAH UMUM PRODI PENDIDIKAN SOSIOLOGI UNIVERSITAS NEGERI MANADO

Seharusnya mahasiswa mampu mengembangkan kualitas berpikirnya  secara aktif tidak membiarkan ketidaktahuannya membeku dalam otak dan menjadi candu apatis  yang normal-aktif. Ini adalah masalah besar yang tidak teratasi. Yang bisa mengatasinya hanyalah seorang dosen, tetapi jikalau dosenpun tidak dapat mengatasinnya, lantas siapa yang bertanggung jawab untuk mengatasinya.? Ini adalah pertanyaan besar untuk kita semua yang harus dijawab;

Ini juga bisa jadi kemunduran pengetahuan yang dipelopori gererasi milenial. Ada generasi milenial juga yang mempunyai potensi dan kemampuan dalam ilmu pengetahuan, mempunyai kemampuan analisis terhadap dinamika politik dan social. Sering berdebat bahkan sampai pada diskusi-diskusi dibidang filsafat, logika dan ideologi. Tapi generasi yang mempunyai tipe atau kesadaran ini  hampir sulit di temukan. Mereka yang mampu mempertengkarkan pemikiran di forum-forum diskusi dan bermain-main dengan teori saat debat, dan tidak terlepas dari membaca buku.

Sangat sedikit jumlahnya, jika dibandingkan dengan jutaan generasi milenial yang lihai bermain  game dan tidak terlepas dari gadget. Karena setiap hari hal serupa ini semakin meningkat, saya akan berdosa terhadap negaraku jika melihat keburukan meningkat dan saya katakan telah berkurang. Kita tidak bisa katakan berkurang sebab kemundaran ilmu pengetahuan yang di alami generasi bangsa saat ini semakin pesat.

Kaum pelajar bangsa ini tidak mengaktifkan kesadaran keingintahuan seperti  membaca dan berdiskusi. Kaum terpelajar telah kehilangan cara untuk mengaktifkan kesadaran itu. Sangat sedikit mempunyai kesadaran itu dan dari yang sedikit itu hanya yang paling tersedikit yang mampu berbuat sesuatu dengan gerakan pikirannya yang progresif. Bukan sebaliknya menjadikan pikiran sendiri semakin tertindas dan membiarkan penindasan berada dalam alam pikiran.

Jika penindasan gaya halus ini selalu membayangi kita, maka anda tidak bisa keluar dari kurungan prakmatis dan apatisme yang telah bersarang dalam pikiran anda,dan anda merasa senang dengan kebodohan,

Ini adalah kondisi yang fatal dapat menimbulkan kehancuran bahkan pembodohan bagi pikiran yang makin masif. Jika demikian maka otak tidak berfungsi lagi untuk kebutuhan hidup, maka  kita mesti berusaha memfungsikan otak untuk bekerja. Karena otak adalah peralatan manusia yang selalu aktif dan berproses maju. Jika tidak, maka otak yang dimiliki ibaratkan sebuah alat mesin yang sudah terganggu atau telah rusak. Bila telah mengalami kerusakan alat dari sebuah mesin itu, otomatis harus dilakukan perbaikan.

BACA JUGA : PERINGATI WORLD CLEAN UP DAY, MASYARAKAT MINAHASA BERSIHKAN SAMPAH.

Jika tidak bisa, berarti dibuang.
Lalu bagaimana dengan otak anda.?
Apakah harus dibuang juga?

Satu-satunya cara untuk membebaskan pikiran yang telah terkooptasi kemalasan itu, tidak lain adalah dengan belajar melawan kemalasan itu dengan bergaul dengan buku. Walaupun hanya sedikit-sedikit membaca,karena sedikit demi sedikit akan memjadi bukit,dan bergaulah dengan orang-orang yang suka berdiskusi.

*****

Top