You are here
Home > Pojok

Menggagas Teologi Kerukunan

teologi kerukunan
Bagikan :

Pojoksiana – Indonesia sebuah negeri yang multikultur, beragam etnis , agama dan keyakian adalah  suatu fakta yang tidak dapat dibantahkan. Di negeri ini agama dan negara tak dapat dipisahkan, sebab agama-agama diakui dapat turut serta dalam mempengaruhi kebijakan secara politis.

Merupakan suatu tugas berat untuk mengelolah negeri yang begitu majemuk ini. Sehingga sangat rentan bagi kelompok tak bertanggung jawab untuk mengoyak kebangsaan yang telah lama dipelihara bangsa ini.

Rabu (13/11/2019) sebuah ledakan bom bunuh diri kembali terjadi di Markas Polrestabes Medan, Kota Medan, Sumatera Utara, kejadian ini bukanlah hal baru. Beberapa tahun belakang sering terjadi peristiwa pemboman dan aksi terorisme yang dilakukan oleh sekelompok orang yang hendak  memecah belah tenun kebangsaan.

Jika dicermati maka aksi-aksi kekerasan yang berupa radikalisme dengan dukungan agama  atau oknum umat agama tertentu selalu berhubungan dengan terorisme. Paham radikalisme berangsur-angsur menjadi aksi terror yang menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan orang lain yang dianggap berbeda dengan kelompoknya.

Jihad, merupakan istilah yang paling populer, digunakan untuk melegitimasi setiap aksi kekerasan yang dilakukan. Istilah yang terus menerus dikumandangkan sebagai bentuk perlawan yang nyata. Makna Jihad dibajak oleh mereka yang haus darah. Dengan jargon jihad, orang-orang rela mati demi sebuah kelompok yang diyakini sebagai bentuk  religious commitment. Jihad menjadi identik dengan kekerasan, kematian, dan darah manusia. Para pelaku tegiur karena alasan religious commitment yang dikontruksikan sebagai pembela keadilan tuhan di muka bumi dengan konsekuensi akan  mendapatkan tempat mulia di sisi Tuhan.

*****

Agama dan perubahan sosial.

Dunia memang sedang dilanda perubahan yang begitu cepat yang berdampak nyata pada perubahan sosial dan kultural. Terjadi pergesaran system nilai sosial dan budaya yang radikal. Pergeseran ini menimbulkan goncangan pada diri manusia yang menyesuaikan pada perubahan tersebut. Penyesuaian perilaku manusia itu, tidak selalu berjalan mulus, bahkan memicu persoalan baru.

Di Indonesia, pengelolahan terhadap perubahan nilai seringkali menjurus pada terciptanya konflik. Masyarakat Indonesia yang identik dengan “budaya timurnya” cenderung memberi resistensi terhadap perubahan yang ada. 

Kondisi keberagamaan masyarakat, ketika bertemu dengan laju perubahan zaman, tentu saja menimbulkan benturan-benturan. Tercipta dilemma yang pelik. Terkadang agama berada pada posisi yang bertentangan dengan kehadiran perubahan sosial, yang datang cepat dan tiba-tiba. Bagi umat beragama, apakah harus mempertahankan ajaran agama secara puritan dengan konsekuensi terkucilkan dari interaksi masyarakat global, ataukah berdamai dengan perubahan yang ada.

Alvin Toffler menyebutkan bahwa perubahan sosial yang datang secara cepat dan tiba-tiba dapat menghasilkan cultural shock. Suatu perubahan dapat berdampak pada perubahan perilaku manusia. Tidak jarang yang menimbulkan perlawanan-perlawanan yang dilakukan individu maupun kelompok secara sistematis dan terorganisir.

*****

Teologi Kerukunan.

Setiap agama mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, penekanan harmonisasi kemanusiaan merupakan sifat dari agama-agama. Namun harmonisasi itu sering dibangun atas dasar primordial, politik dan etnis. Bangunan harmonitas yang di bangun seperti itu sering bersifat semu dan amat sementara bahkan rapuh. Sebab jika terjadi ketersinggungan antar kelompok segera mengakibatkan penganut agama menjadi kalut kemudian dihinggapi permusuhan. Dari sana dibutuhkan suatu kerukunan yang didasarkan ke langit, suatu kerukunan yang bersifat teologis.

Tugas teologi kerukunan menurut Syahrin Harahap adalah menggemakan kembali suara Tuhan di zaman ini. Teologi harus menjadi penyambung lidah tuhan, bukan penyambung lidah otoritas ataupun mayoritas, atau bukan sekedar perpanjangan kehendak penguasa atas masyarakat semata.

Secara umum agama merupakan pandangan atas rahasia Ilahiah, sehingga tidak ada satupun agama yang berhak mengklaim diri sebagai  pemiliki norma bagi agama lain. Ajaran setiap agama tentang sebuah titik temu, kebersamaan,  dan kemanusiaan akan membuat manusia damai dan harmonis dalam kehidupan untuk menyongsong masa depan umat manusia yang lebih baik. Agama harus menjadi rahmat bagi seluruh semesta.

Agama harusnya menjadi tempat mengaktualkan amalan-amalan sosial kemanusiaan. Spirutualisme tidak hanya sekedar dimaknai dengan melaksanakan ritus-ritus peribadatan, tetapi juga membangun harmoni sosial, pembebasan terhadap ketidakadilan dan penindasan terhadap umat manusia. Setiap penganut agama harus membuang jauh sikap monopoli kelas tertentu dalam hierarki keberagamaan, tapi mengajarkan egalitarianisme spiritual demi terwujudnya etika dan kebaikan global.

*****

Awaluddin Hasrin
Awaluddin Hasrin
Penyuka kopi dan buku.
Top