You are here
Home > Pojok

Ningsih Tinampi, Sebuah Titik Balik;

ningsih tinampi
Bagikan :

Ningsih Tinampi seorang “dokter”  pengobatan alternatif dipercaya mampu mengobati banyak macam penyakit. Pengobatan lakukan di kediamannya di sebuah desa di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Setiap hari ribuan orang dari berbagai penjuru nusantara, berbondong-bondong mengantri untuk di obati ibu ningsih tanampi. Dari kabar yang beredar, antrean pengobatan Ningsih Tinampi sangat banyak , bahkan ada pasien yang telah mendapat jadwal pengobatannya pada Februari 2020 nanti.

Ningsih tinampi, mengobati pasiennya dengan metode pengobatan alternatif, ia mengintrogasi mahluk halus yang ada tubuh pasiennya. Pasien yang dirasuki meronta kesakitan akibat dibacakan doa oleh Ningsih. Namun merasakan sakit bukan pasien, tapi mahluk yang bersarang  dalam tubuh pasien tersebut.

Pengobatan ala Ningsih merupakan contoh tentang bagaimana sebagian masyarakat kita mempercayai pengobatan alternatif sebagai jalan untuk mencari kesembuhan. Tentu saja metode ini dianggap sesuatu yang tidak masuk akal, dan menyalahi prinsip-prinsip medis. Karena  kehidupan saat ini dianggap sudah modern dan Masyarakat percaya jika pengobatan yang benar adalah menggunakan metode medis yang dilakukan oleh para dokter yang telah teruji.

Fenomena pengobatan semacam ini tidak terjadi kali ini saja. Beberapa lalu, kita dihebohkan oleh sosok ponari si dukun cilik asal Jombang yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit melalui air yang dicelup dengan batunya. Lantas membuat banyak orang berbondong-bondong datang padanya.

Kedua fenomena tersebut merupakan titik balik sebuah kebudayaan modern.  Klaim narasi tunggal pengobatan secara medis yang ditandai dengan penggunaan obat-obatan dan peralatan medis yang supercanggaih dalam sesaat digugat oleh narasi yang ditawarkan  Ningsih dan Ponari.

Dunia medis (sains modern) dibangun berdasarkan klaim-klaim universalitas dan rasionalitas, klaim itu menciptakan peradaban yang bertumpu pada mekanisme oposisi biner (prinsip mengelompokkan segala sesuatu menjadi dua kelompok yang saling bertentangan, yang satu dianggap lebih superior dari yang lain). Bahwa dunia medis modern lebih mempunyai otoritas sementara pengobatan alternatif berapa pada posisi terpinggirkan.  

Fenomena Ningsih dan Ponari adalah upaya untuk menolak narasi tunggal pengobatan yang hanya dimiliki dunia medis modern. Yasraf Amir Piliang melihat fenomena ini sebagai dekonstruksi kultural yaitu strategi budaya berupa pencairan atau pembongkaran kultural. Dekonstruksi kultural merupakan kritik terhadap kebudayaan yang dibangun berdasarkan prinsip struktural, khususnya semiotika struktural ala Saussure, yang dianggap bersifat statis, metafisis, dogmatik, dan transedental yang anti perubahan dan menutup pintu bagi perubahan budaya yang radikal.

Tercipta nostalgia kebudayaan sebuah kondisi kebudayaan yang memalingkan wajahnya kembali ke masa lalu, Berbagai aspek budaya di masa lalu dipungut kembali dan dikombinasikan dengan berbagai unsur-unsur dari masa kini yang menghasilkan ekspresi budaya yang sangat plural, beragam dan kompleks.

Semangat itu membawa kita mengintip kembali masa lalu (back to the past) tetapi tak mengambil kembali aspek mitologi dan transendentalnya. Ningsih dan ponari adalah pioneer yang membawa kita kembali pada cara-cara pengobatan yang pernah ada di nusantara. Pengobatan yang mengakar kuat di masa lalu yang dilakukan tanpa bayang-bayang medis modern.

*****
Penulis : Awaluddin Hasrin

Awaluddin Hasrin
Awaluddin Hasrin
Penyuka kopi dan buku.
Top