You are here
Home > Pojok

Postmodernisme dan Kita;

postmodernisme
Bagikan :

Perbincangan mengenai posmodernisme dalam kaitannya dengan kita atau kekitaan, tidak dapat terlepas dari kegalauan terminologis di seputar konsep post-modernisme itu sendiri, yang merujuk pada berbagai pengertian, berbagai konteks, dan berbagai wacana; yang dibicarakan di dalam berbagai disiplin, digunakan dalam berbagai bidang dan diklaim oleh berbagai kelompok ideology. Tidak ada pengertian, konteks atau wacana tunggal post-modernisme, melainkan pengertian (-pengertian), konteks (-konteks), dan wacana (-wacana) dalam bentuknya yang paling plural. Sehinggah perbincangan mengenai post-modernisme dalam konteks kekitaan harus ditempatkan dalam medan kegalauan terminology tersebut.

Di antara kegaulan itu adalah menyangkut relasi antara istilah post-modernisme dengan istilah yang sering disamakan dengan yang pertama, yaitu hyper-modernisme. Diperlukan klarifikasi mengenai kedua konsep ini.

Post-modernisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kecenderungan baru pemikiran dan realitas budaya sebagai konsekuensi dari berakhirnya modernism (yang ditandai oleh semakin terbatasnya gerak kemajuan dan kebaruan dalam berbagai bidang kultural) sehingga kini kebudayaan memalingkan mukanya ke wilayah-wilayah masa lalu, dalam rangka memungut kembali warisan bentuk, symbol dan maknanya.

Hyper-modernisme, sebaliknya adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kecenderungan perkembangan modernisme kea rah yang melampaui atau melewati (beyond), yaitu perkembangan unsur-unsur modernitas ke garis-garis batas yang harusnya tidak ia lewati, sehingga penggiringannya pada kondisi ekstream.

Terdapat perbedaan orientasi yang sangat jelas antara post-modernisme dan hyper-modernisme sehingga beberapa pemikir, seperti Jean Baudrillard dan Paul Virilio cenderung melihat kedua istilah itu sebagai dua kecenderungan yang bertolak belakang. Yang satu berorientasi ke masa lalu, yang lain ke masa depan; yang satu bersifat nostalgia, yang lain utopia; yang satu pastiche,yang lain futuristik. Akan tetapi ada pemikir-pemikir lain, seperti J.F Lyotard atau Charles Jenks, yang melihat kedua istilah itu tidak dalam bingkai oposisi biner, melainkan dalam bingkai eklektisisme, yaitu bersatunya dua unsur yang bertolak belakang di dalam sebuah kesatuan, dengan menerima kontradiksi di baliknya.

Post-modernisme, dalam pengertian ini adalah eklektisisme unsur modernism (dan hyper-modernisme) dengan unsur-unsur masa lalu, yang dicirikan oleh toleransi terhadap kontradiksi itu sendiri.

BACA JUGA : NINGSIH TINAMPI, SEBUAH TITIK BALIK

Perbincangan tentang post-modernisme dalam tulisan ini mengacu pada pemahaman post-modernisme yang terakhir, yang melihat hyper-modernisme sebagai bagian dari post-modernisme, dengan segalaa afirmasi terhadap berbagai kontradisi di dalamnya.

Perbincangan menganai post-modernisme itu, secara khusus akan meninjau tentang post-modernisme dalam konteks kebudayaan, khususnya berbagai kecenderungan baru dalam aspek dan wujud-wujud budaya, baik yang menyangkut budaya benda, budaya non-benda dan tingkah laku social di dalamnya, serta bagaimana pengaruhnya terhadap kita dan kebudayaan kita. Penjelasan di atas dapat memperlihatkan, betapa luasnya wilayah perbincangan tentang budaya post-modernisme. Tulisan ini akan dibatasi pada empat aspek pokok kebudayaan , yaitu ideology budaya, politik kebudayaan, kondisi kebudayaan dan strategi kebudayaan.

Top